Problematika pendidikan di
Indonesia seolah tak ada habisnya. Entah apa sebenarnya yang diinginkan oleh
pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan Nasionalnya, yang pasti
untuk mengatakan mereka telah memperjuangangkan pendidikan dan hak-hak warga
Negara untuk belajar, masih jauh dari yang diharapkan. Pemerintah memang tidak
menghalangi warganya untuk belajar dimana saja, hanya saja penghargaan dan
pengakuan terhadap semua warganya yang juga belajar dan mengajar tak diberikan
secara berimbang.
The Fenomenon of Love
Manusia sekarang jelas sangat berbeda dengan manusia zaman dulu. Saking jauhnya, bisa diibaratkan langit dan bumi. Perubahan moderat
menuntun ke zaman kemunduran Insan masa kini. Tapi bukankah hal yang maklum,
bahwa kurun yang semakin akhir akan semakin mengalami kemunduran? Sebaik-baik
kurun adalah kurunnya Nabi Muhammad Saw., kemudian kurun yang mengiringinya
(sahabat), kemudian yang mengiringinya (tabi’in), dan seterusnya. Sedang kurun
kita sudah terlalu jauh dari mereka.
Meski
perkembangan zaman dan peradabannya semakin maju, toh tidak bisa menghasilkan
insan-insan berkualitas sekaliber tokoh-tokoh Islam masa lalu. Jangankan untuk
mengimbangi sahabat-sahabat Nabi, untuk mengimbangi Ulama mutaakhirin saja
tak akan mampu. Bagaimana beliau-beliau mampu menghafal al Qur’an di saat
usianya yang masih belia, mampu menghafal beribu-ribu hadits, dan lain-lain
yang tak mampu diimbangi oleh generasi sekarang ini?
Mengambil Resiko Terendah
Waktu terus berputar dan tak mengenal kata kompromi. Manusia yang beruntung adalah mereka yang pandai memanfaatkan waktu dengan baik dan benar. Mereka yang tahu kapan dan apa yang harus mereka lakukan. Karena hidup ini adalah pilihan. Tentunya hanya orang yang dapat memilih dengan tepat saja yang benar-benar sukses menjalani kehidupannya. Tak takut dan tak ragu untuk memutuskan problem yang dihadapi.
Menetukan pilihan bukanlah perkara mudah. Pilihan yang tepat takkan pernah terwujud tanpa keahlian mengukur dan menimbang konsekuensi dan segala resikonya. Sebab, resiko akan selalu ada di setiap gerak langkah manusia. Tak ada satu pun dari mereka yang akan tebebas dari resiko terhadap apa yang mereka pilih. Mereka yang tak pernah menyadarinya akan merugi. Sebaliknya, mereka yang memahami dan mengerti kensicayaan ini merupakan manusia pilihan.
Langganan:
Postingan (Atom)